Menyambut Bulan Mulia

Green-light-bulb

Alhamdulillah. Ash-sholatu was salamu ‘ala rasulillah. Amma ba’du.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia, bulan penuh berkah, bulan ampunan, bulan kedermawanan, dan bulan kesabaran.

Di dalam bulan Ramadhan inilah, umat Islam di berbagai penjuru bumi tunduk patuh kepada Allah; dengan menahan diri dari makan dan minum serta pembatal-pembatal puasa sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Inilah ibadah yang agung, ibadah yang menjadi salah satu perwujudan makna firman Allah ta’ala

[yang artinya], “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, ibadah kepada Allah adalah bentuk perendahan diri dan kepatuhan kepada-Nya dengan penuh kecintaan dan pengagungan. Ibadah kepada Allah ini akan terwujud dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sesuai dengan tuntunan syari’at Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman, (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian puasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Saudara-saudara seiman yang semoga selalu dirahmati Allah, ibadah puasa ini menjadi sebuah ujian bagi kita, ujian atas nilai-nilai ketakwaan yang tertancap di dalam hati kita; apakah kita termasuk orang yang tunduk dan taat ataukah kita termasuk orang yang membangkang dan bermaksiat. Dengan puasa, akan tampak siapa yang bertakwa dan siapa yang lebih mendahulukan hawa nafsunya! Oleh sebab itu, marilah kita berusaha mewujudkan nilai-nilai ketakwaan ini dengan sebenarnya melalui gerak-gerik hati, ucapan lisan, dan juga perbuatan anggota badan.

Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Bukanlah iman itu semata-mata dengan berangan-angan atau menghiasi penampilan luar. Akan tetapi hakikat iman itu adalah apa yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.”

Marilah kita sambut bulan puasa ini dengan hati yang penuh kegembiraan. Kegembiraan akan rahmat dan ampunan Allah, kegembiraan terhadap curahan hidayah dan kelembutan taufik-Nya. Ibadah puasa adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim kepada Rabbnya. Ibadah puasa melatih diri kita untuk meninggalkan hal-hal yang kita senangi demi menggapai kecintaan Rabb penguasa langit dan bumi.

Para ulama kita menasihatkan, “Jika engkau berpuasa maka hendaklah berpuasa pula lisanmu, penglihatanmu, dan anggota badanmu. Janganlah engkau jadikan hari di saat kamu berpuasa sama saja dengan hari-hari biasa.”

Kelezatan Beribadah

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, adalah kebahagiaan yang teramat besar tatkala Allah memberikan kepada kita kesempatan dan kemudahan dalam menjalankan ibadah kepada-Nya. Sungguh, kenikmatan beribadah dan kelezatan ketaatan adalah penghibur hati dan penyejuk qolbu insan-insan beriman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan bisa merasakan manisnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim)

Kelezatan dan kenikmatan ibadah inilah yang telah dirasakan oleh generasi pertama umat ini, yaitu para sahabat radhiyallahu’anhum ajma’in. Orang-orang yang telah tertempa dan teruji dengan berbagai medan pertempuran dan pengorbanan di jalan Allah. Mereka yang rela mempertaruhkan nyawa, harta, dan kedudukannya demi mempertahankan dakwah tauhid bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Allah telah memberikan kepada orang-orang beriman kenikmatan yang sangat besar, ketika Allah mengutus diantara mereka rasul dari kalangan mereka sendiri; yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, sementara mereka dahulu berada di dalam kesesatan yang amat nyata.” (QS. Ali ‘Imran : 164)

Ibadah puasa Ramadhan yang Allah wajibkan kepada kita setahun sekali adalah salah satu bukti kesempurnaan rahmat dan bimbingan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dengan ibadah puasa inilah, jiwa mereka akan tersucikan dari berbagai kotoran dan noda penyimpangan. Baik penyimpangan pemahaman atau syubhat, maupun penyimpangan kehendak nafsu atau syahwat.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, sesungguhnya puasa Ramadhan adalah ibadah yang sangat agung dan mulia. Karena puasa Ramadhan memupuk dan menumbuhsuburkan ketaatan kepada-Nya serta mengendalikan hawa nafsu yang kerapkali menggelincirkan manusia dari jalan-Nya. Padahal, setiap hari di dalam sholat kita, kita selalu berdoa kepada Allah, ‘Ihdinash shirathal mustaqim’; “Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus.” Yaitu jalan orang-orang beriman, jalan ahli tauhid dan jalan pengikut setia baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kita sering menganggap bahwa kebutuhan kita terhadap makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, dan berbagai fasilitas hidup keduniaan lainnya sebagai kebutuhan primer yang tak boleh lepas dan luput dari desah nafas dan detak jantung kita. Padahal, di sana ada kebutuhan-kebutuhan yang lebih besar dan lebih mendesak untuk kita penuhi; yaitu hidayah dari Allah dan ibadah kepada-Nya, sebagaimana doa yang kita ucapkan setiap harinya; Ihdinash shirathal mustaqim. Bukankah kita membaca doa ini minimal 17 kali sehari? Sementara makan dalam sehari mungkin cukup dua atau tiga kali! Dengan demikian semestinya kita semakin menyadari, bahwa kebutuhan kita kepada hidayah dan ketaatan jauh berada di atas itu semua.

Oleh sebab itu, marilah kita tunaikan ibadah puasa ini dengan penuh kelapangan jiwa, ketundukan hati, dan kekhusyu’an kepada Allah ‘azza wa jalla. Semoga dengan ibadah-ibadah yang kita lakukan membuat kita semakin dekat kepada Allah dan semakin dicintai-Nya.

Musim Semi Ketaatan

Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah, bulan Ramadhan memberikan warna yang begitu indah dan kesan yang teramat mendalam dalam lembaran kehidupan seorang muslim. Bagaimana tidak? Sementara di bulan ini berbagai ketaatan dan amal ibadah bersemi dan tumbuh subur. Seakan-akan bumi ini tersenyum dan langit bersorak-sorai penuh suka cita menaungi hari demi hari di bulan Ramadhan ini.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bulan Ramadhan, dimana pada saat itu diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan dari petunjuk itu serta menjadi pembeda -antara kebenaran dan kebatilan-. Oleh sebab itu barangsiapa diantara kalian yang hadir di bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Hasan al-Bashri rahimahullah pernah mengatakan, “Wahai anak Adam! Sesungguhnya engkau adalah kumpulan dari hari-hari. Setiap hari pergi berlalu maka lenyaplah sebagian dari dirimu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang sahih, “Ada dua buah kenikmatan yang banyak orang tertipu dengan keduanya; yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Kaum muslimin yang berbahagia, waktu adalah nikmat. Kehidupan ini adalah nikmat. Kesehatan adalah nikmat. Dan ibadah kepada Allah adalah nikmat yang teramat besar bagi hamba-hamba-Nya. Dengan nikmat-nikmat ini, akan tampak siapakah orang yang sukses dan siapakah orang yang merugikan dirinya sendiri!

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 1-3)

Iman dan amal salih adalah jalan utama untuk membebaskan diri dari kerugian dan kebinasaan. Dengan iman, hati seorang hamba akan tergerak untuk meniti jalan kehidupan ini dengan bekal ketakwaan. Dengan amal salih, langkah-langkah seorang hamba akan terhindar dari kesesatan dan penyimpangan.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Amal salih adalah amal yang ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, marilah ibadah puasa Ramadhan ini kita lakukan penuh dengan keikhlasan hati, dan berupaya sebisa mungkin mencocoki dengan Sunnah atau ajaran Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab amal yang tidak sesuai tuntunan akan ditolak dan tidak diterima.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada perintah/ajarannya dari Kami maka ia pasti tertolak.” (HR. Muslim)

Bekal Terbaik Dalam Hidup

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, bulan Ramadhan mengingatkan kita akan bekal yang paling berharga yang semestinya dibawa dan disiapkan oleh setiap manusia, yaitu takwa.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Seorang ulama terdahulu, Thalq bin Habib rahimahullah menjelaskan, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya/iman dari Allah, dan kamu mengharapkan pahala dari Allah. Dan kamu meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya/iman dari Allah dengan kamu senantiasa merasa takut akan hukuman Allah.”

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, ketakwaan kepada Allah inilah yang akan membuat seorang menjadi mulia di sisi-Nya, bukan karena faktor pangkat, jabatan, kekayaan, atau keelokan rupa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa-rupa kalian dan harta-harta kalian. Akan tetapi Allah memandang kepada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim)

Oleh sebab itu Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat)

Ketakwaan kepada Allah inilah yang menjadi hikmah dan pelajaran berharga dari ibadah puasa yang kita jalani bersama. Bagaimana seorang hamba tetap bertakwa kepada-Nya di kala sendiri, sebagaimana dia bertakwa kepada Allah ketika berada di hadapan manusia. Ketakwaan kepada Allah yang tercermin di dalam keyakinan hati, tawakal, dan keikhlasan. Ketakwaan kepada Allah yang tercermin di dalam ucapan lisan dan perkataan yang bersih dari berbagai penyakit dan kotoran lisan. Ketakwaan kepada Allah yang tercermin dalam tingkah laku, akhlak, dan perbuatan anggota badan.

Ketakwaan kepada Allah, inilah sebab utama keselamatan, sebab utama untuk lepas dari kesulitan-kesulitan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan berikan kepadanya jalan keluar dan Allah berikan kepadanya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath-Thalaq)

Salah seorang salaf/pendahulu yang salih berpesan kepada putranya, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah pasti Allah akan menjaganya.”

Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah, bulan Ramadhan semestinya kita lalui dengan mengerjakan ibadah dan ketaatan, bukan dengan kelalaian, kemalasan, atau kesia-siaan. Marilah kita gunakan kesempatan emas ini untuk membaca al-Qur’an dan merenungkan keindahan isinya, bergembira dengan berita gembira yang ada di dalamnya dan menitikkan air mata karena ancaman dan berita siksa yang ada di dalamnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Jadikanlah al-Qur’an sebagai cahayamu, dan janganlah engkau tinggalkan ia. Wahai saudaraku, betapa tersiksanya seorang hamba yang jauh dari petunjuk Rabbnya!

Medan Dzikir Kepada Allah

Kaum muslimin yang semoga selalu dirahmati Allah, bulan Ramadhan kembali menghampiri kita. Ibadah demi ibadah dijalani oleh umat Islam dengan penuh harap kepada Rabbnya. Dzikir kepada Allah dan taubat kepada-Nya, bagian yang tak bisa dipisahkan dalam aktifitas seorang hamba.

Salah seorang ulama besar Islam berkata, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Lantas bagaimanakah keadaan seekor ikan apabila dipisahkan dari air?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Bukhari)

Dzikir akan membuat hati menjadi hidup dan tentram. Dzikir akan memberikan pasokan energi dan kekuatan iman. Dzikir akan membuahkan kebahagiaan dan keselamatan. Dzikir kepada Allah adalah amalan yang sangat besar dan utama. Allah ta’ala berfirman dalam ayat-Nya (yang artinya), “Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (QS. Al-Baqarah)

Kaum muslimin yang berbahagia, dzikir kepada Allah yang paling utama adalah sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, “Yaitu yang bersesuaian antara apa yang ada di dalam hati dengan apa yang diucapkan dengan lisan.”

Apabila lisan kita memuji Allah maka hendaklah hati kita pun demikian; jangan sampai lisan kita memuji Allah namun hati kita penuh dengan ujub dan kesombongan. Apabila lisan kita bertaubat kepada Allah maka hendaklah hati kita pun demikian. Jangan sampai lisan kita beristighfar namun hati kita bertekad baja untuk terus mengumbar dosa tatkala kesempatan bermaksiat kembali terbuka!

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, kehidupan yang kita jalani ini adalah ujian maha dahsyat dan cobaan besar yang tak boleh kita sepelekan. Allah ta’ala telah menegaskan (yang artinya), “Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Mulk)

Orang yang lulus dari ujian ini adalah yang menghiasi umurnya dengan amal-amal yang ikhlas dan selaras dengan ajaran Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang senantiasa mengingat Allah dalam segala gerak-gerik dan tingkah lakunya. Karena hakikat dzikir kepada Allah adalah dengan taat kepada-Nya dan meninggalkan maksiat.

Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Dzikir adalah taat kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada Allah maka dia telah berdzikir kepada-Nya, dan barangsiapa yang tidak taat kepada-Nya maka dia bukanlah orang yang berdzikir kepada-Nya. Meskipun dia banyak membaca tabsih, tahlil, dan bacaan al-Qur’an.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: