Kembali Menyegarkan Pemahaman Tentang Ibadah

th (3)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, kata ‘ibadah’ sangat akrab di telinga kita. Tidak bosan-bosan kita mengucapkannya, sebagaimana dalam ayat ‘iyyaka na’budu’ yang setiap hari kita baca dalam sholat kita.

Para ulama kita telah menjelaskan makna dan hakikat ibadah ini dengan gamblang dalam karya-karya mereka. Hal ini sesuatu yang wajar dan mudah dimengerti, karena ibadah adalah tujuan hidup umat manusia di muka bumi ini, sebagaimana firman Allah (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Para ulama tafsir menukil tafsiran dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, bahwa setiap kata ibadah yang disebutkan di dalam al-Qur’an maka maksudnya adalah tauhid. Mengapa bisa demikian? Apakah maksud dari tafsiran beliau ini?

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, ibadah kepada Allah merupakan suatu bentuk perendahan diri dan ketundukan yang dilandasi dengan kecintaan dan pengagungan kepada-Nya, kemudian ia ‘diekspresikan’ dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, demikian pengertian ibadah sebagaimana diterangkan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.

Kalau kita cermati pengertian ibadah ini, dimanakah letak keterkaitan antara ibadah dengan tauhid? Ya, seolah-olah kurang jelas dari pengertian ini mengenai kaitan antara ibadah dengan tauhid. Oleh sebab itu wajarlah jika Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah sendiri mengatakan bahwa tauhid itu secara substansinya adalah ‘salah satu bentuk daripada ibadah’; karena tauhid adalah salah satu perintah Allah. Sebagaimana bisa kita baca dalam penjelasan beliau terhadap kitab Tsalatsah al-Ushul.

Dari situ pula, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan di dalam risalah Tsalatsah al-Ushul tersebut dengan kata-kata ‘dan perkara terbesar yang Allah perintahkan adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam hal ibadah’. Dari bahasa beliau ini bisa kita tangkap bahwasanya tauhid adalah bagian dari perintah Allah. Kemudian, beliau menerangkan bahwa hakikat tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal ibadah; maknanya tidak boleh disembah kecuali Allah semata.

Demikian pula, apabila kita melihat kepada definisi ibadah yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, bahwa ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa ucapan atau perbuatan, yang batin maupun yang lahir. Maka dari sini, bisa kita katakan bahwa tauhid adalah bagian daripada ibadah. Oleh sebab itu pula, Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa diantara bentuk ibadah itu adalah mengikhlaskan agama untuk Allah -yaitu tauhid-.

Untuk memahami dengan mudah kaitan antara ibadah dengan tauhid ini, maka kita bisa menyimak keterangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah di dalam risalah beliau al-Qawa’id al-Arba’. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya ibadah tidaklah dinamakan ibadah kecuali apabila disertai dengan tauhid.”

Dari penjelasan beliau ini, bisa kita simpulkan bahwa tauhid adalah syarat atau rukun utama diterimanya ibadah, sebab tanpa tauhid maka ibadah apa pun -apakah itu sholat, puasa, sedekah, dsb- tidak akan diterima di sisi Allah. Sebagaimana firman Allah (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsirnya menyatakan bahwa kedua hal ini -yaitu ikhlas/tauhid dan ittiba’- adalah dua rukun/pilar diterimanya amal. Tanpa keikhlasan dan tauhid serta ittiba’ maka amalan tidak diterima di sisi Allah.

Ibadah kepada Allah tidak sah apabila disertai dengan syirik. Oleh sebab itu, seringkali Allah mengiringkan larangan berbuat syirik dengan perintah beribadah. Seperti dalam firman-Nya (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisaa’: 36)

Demikian juga dalam firman Allah (yang artinya), “Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang rasul -yang menyerukan-; Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)

Oleh sebab itulah, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Apabila syirik mencampuri suatu ibadah maka akan membuatnya rusak/batal, sebagaimana hadats apabila menimpa kepada thaharah.”

Dari pemahaman inilah, maka beliau juga menegaskan dalam Kitab Tauhid-nya bahwa ‘hakikat ibadah itu sebenarnya adalah tauhid, karena permusuhan -yang terjadi antara rasul dengan umatnya- adalah di dalam permasalahan ini’.

Dengan ungkapan lain, bisa kita katakan bahwa beribadah kepada Allah tanpa tauhid bukanlah ibadah yang sebenarnya, karena pelakunya telah kehilangan pondasi atau syarat diterimanya; yaitu tauhid.

Oleh sebab itu dalam surat al-Kafirun, Allah menyebut orang kafir -walaupun beribadah kepada Allah dengan segala bentuk ibadah, namun tidak dibarengi dengan tauhid- tidak ‘menyembah’ Allah. Yaitu dalam ayat yang bunyinya ‘wa laa antum ‘aabiduuna maa a’bud’ [dan tidaklah kalian beribadah kepada apa yang aku sembah].

Padahal, sebagaimana kita ketahui, bahwa orang musyrikin Quraisy kala itu juga melakukan bentuk-bentuk ibadah kepada Allah. Namun karena tidak dilandasi tauhid, maka tidaklah disebut sebagai ibadah di sisi Allah. Sehingga, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak mewujudkan hal ini [tauhid] maka dia tidaklah -disebut- beribadah kepada Allah -dengan sebenarnya-.”

Dari sinilah, kita bisa memahami betapa pentingnya kedudukan dakwah tauhid, karena ia menjadi asas di dalam agama dan syarat diterimanya seluruh amal. Sehingga ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu ke Yaman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpesan kepadanya sebagaimana disebutkan dalam riwayat Bukhari, “Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah.”

Hal ini juga menunjukkan bahwa tauhid merupakan perintah agama yang paling agung -sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah di atas dalam risalahnya Tsalatsah al-Ushul-.

Dengan bahasa yang lebih sederhana, bisa kita katakan bahwa mengajarkan kepada kaum muslimin tentang tuntunan dan anjuran ibadah -apakah itu sholat, puasa, sedekah, haji, jihad, amar ma’ruf nahi mungkar, dsb- tidaklah ada artinya jika tidak dibarengi dan dilandasi dengan dakwah kepada tauhid yang murni dari segala kotoran syirik dan kekafiran. Bahkan, semestinya tauhid menjadi prioritas utama di dalam dakwah.

Dari sinilah, kita bisa memahami maksud perkataan ulama bahwa hadits ‘innamal a’malu bin niyaat’ itu bisa masuk dalam tujuh puluh bab fikih. Bahkan, sebagian mereka mengatakan bahwa hadits ini mengandung sepertiga ilmu. Sebab niat bukan hanya mencakup persoalan fikih -seperti niat sholat, niat wudhu, dsb- akan tetapi lebih daripada itu ia juga mencakup keikhlasan dan tauhid yang itu menjadi ruh dan pilar utama tegaknya amal dan syari’at Islam.

Oleh sebab itu di dalam hadits yang sohih pula, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan, bahwa landasan atau pondasi pertama bagi Islam adalah ‘syahadat laa ilaha illallah’ dalam lafal lain disebutkan ‘mengesakan/mentauhidkan Allah’ (HR. Muslim)

Dalam hadits yang lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika menjelaskan makna Islam, “Islam adalah kamu beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dst.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan sebagaimana telah kita ketahui pula, bahwa tauhid inilah yang menjadi kandungan dari kalimat syahadat laa ilaha illallah; yaitu tidak ada yang berhak diibadahi selain Allah. Sehingga segala macam ibadah harus ditujukan kepada Allah semata, tidak boleh dibagi-bagi kepada selain-Nya, siapa pun dia dan apa pun kedudukannya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian berdoa/beribadah bersama dengan -ibadah kalian kepada- Allah [kalian menyeru] kepada siapa pun -selain-Nya-.” (QS. Al-Jin: 19)

Maknanya juga, bahwa semua ibadah yang kita lakukan harus ikhlas, tidak boleh tercampuri riya’. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan kepada-Nya agama dengan hanif/menjauhi syirik.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Inilah ajaran seluruh nabi dan rasul kepada umatnya. Beribadah kepada Allah semata dan mengingkari segala peribadatan kepada selain-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami utus sebelummu seorang rasul melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Anbiyaa’)

Dalam ayat ‘iyyaka na’budu’ terkandung tauhid dan keikhlasan, yang ini merupakan obat untuk menyembuhkan penyakit riya’ dan sum’ah. Sedangkan dalam ayat ‘wa iyyaka nasta’in’ terkandung tawakal dan perendahan diri kepada Allah, yang ini merupakan obat untuk menyembuhkan penyakit ujub dan kesombongan. Sebagaimana orang musyrik tidak masuk surga, maka demikian pula orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan/kibr, walaupun hanya sebesar anak semut.

Kepada Allah jua kita memohon ilmu yang bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: