Meniti Jalan Selamat

Fitur-Canggih-Yang-Terdapat-Pada-Mobil-Baru

Dalam bukunya -yang diberi kata pengantar oleh Syaikh Shalih al-Fauzan dan dimuroja’ah oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahumallahu– Syaikh Abdullah bin Shalfiq azh-Zhafiri hafizhahullah menjelaskan, bahwa ada empat perkara utama yang menjadi tema sentral atau pusat perhatian di dalam manhaj salaf. Keempat perkara itu adalah :

Pertama. Mengikhlaskan agama [ibadah dan ketaatan] untuk Allah semata [baca; tauhid]. Ini merupakan pokok yang paling mendasar dan kaidah utama di dalam agama. Diantara dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepadamu al-Kitab dengan kebenaran, oleh sebab itu sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ketahuilah, hak Allah lah agama yang murni.” (QS. Az-Zumar: 2)

Kedua. Perintah untuk bersatu di dalam agama dan larangan berpecah-belah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Berpegang teguhlah dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Ketiga. Bersikap mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun dia seorang budak Habasyi. Karena dengan hal ini akan tegak agama dan dunia, terjaga kehormatan dan jiwa manusia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah rasul, dan ulil amri diantara kalian.” (QS. An-Nisaa’: 59)

Keempat. Agama ini yang meliputi perkara akidah, ibadah, ataupun muamalah, semuanya ditegakkan di atas dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah. Inilah ilmu yang harus dimiliki sebelum berkata dan berbuat, sebagaimana yang diperintahkan Allah ta’ala (yang artinya), “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah.” (QS. Muhammad: 19). Ini artinya, manhaj salaf menuntut keterkaitan yang erat antara umat dengan ilmu dan para ulama. Dengan jalan inilah akan terwujud kebahagiaan, kebaikan, dan keselamatan dari segala macam fitnah dan kekacauan.

[lihat dalam kitab beliau Haqiqah al-Manhaj as-Salafi, hal. 11-15]

Beliau juga menegaskan:

Sesungguhnya manhaj salaf inilah Islam, dan Islam itulah manhaj salaf. Imam al-Barbahari rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah, bahwa Islam adalah Sunnah, dan Sunnah itulah Islam. Tidak akan bisa tegak salah satunya kecuali bersama pasangannya.” Kebenaran yang diturunkan Allah itu satu, tidak berbilang. Demikian pula kelompok yang selamat [al-Firqah an-Najiyah] pun hanya ada satu. Manhaj salaf ini adalah manhaj/jalan yang dipegang oleh al-Firqah an-Najiyah yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kelompok yang mendapatkan pertolongan hingga tegaknya hari kiamat.

[lihat Haqiqah al-Manhaj as-Salafi, hal. 25]

Kemudian beliau mengatakan:

Apabila keadaannya adalah sebagaimana yang telah digambarkan, yaitu menunjukkan bahwa sesungguhnya hakikat manhaj salaf itu adalah Islam itu sendiri. Dengan demikian, dasar peletakannya adalah al-Qur’an al-Karim dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta apa-apa yang dipahami dan diajarkan oleh para Khulafa’ ar-Rasyidin dan para sahabat yang telah diridhai Allah.

[lihat Haqiqah al-Manhaj as-Salafi, hal. 25]

images (2)

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah mengatakan:

Maka mereka itu -sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in/salafus shalih, pent- adalah teladan bagi umat ini. Dan yang dimaksud manhaj mereka ialah jalan yang mereka berjalan di atasnya; yaitu dalam hal akidah mereka, dalam hal mu’amalah mereka, di dalam akhlak mereka, dan dalam segala urusan mereka. Itulah manhaj yang bersumber dari al-Kitab dan as-Sunnah. Karena begitu dekatnya mereka -salafus shalih- dengan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan karena kedekatan mereka dengan masa turunnya wahyu. Dan karena mereka mengambilnya langsung dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu mereka menjadi generasi yang terbaik, dan manhaj/jalan mereka adalah sebaik-baik jalan…

[lihat Manhaj as-Salaf ash-Shalih wa Haajatul Ummah Ilaih, hal. 2-3]

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah juga mewasiatkan:

Barangsiapa yang menginginkan keselamatan wajib atasnya untuk mengenali madzhab salaf dan berpegang teguh dengannya, serta mendakwahkan kepadanya. Inilah jalan keselamatan. Ia laksana bahtera Nuh ‘alaihis salam; barangsiapa menaikinya maka dia akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal darinya pasti binasa dan tenggelam dalam kesesatan. Oleh sebab itu tiada keselamatan bagi kita kecuali dengan madzhab salaf. 

Dan tidak mungkin kita mengerti madzhab salaf kecuali dengan belajar [baca; ngaji], yaitu menimba ilmu, mengajarkan, dan mengkajinya. Di samping itu, kita juga harus senantiasa memohon kepada Allah, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka.” Yaitu kita memohon kepada Allah agar selalu memberikan taufik kepada kita untuk berjalan di atasnya [jalan yang lurus] dan meneguhkan kita di atasnya.Inilah yang harus kita lakukan.

Bukanlah yang menjadi permasalahan itu perkara pengakuan -mengaku ahlus sunnah atau pengikut salaf, pent- sebab ‘pengakuan yang tidak ditopang dengan bukti-bukti itu hanya akan jadi omong kosong belaka’ [kata pepatah arab, pent]. Jadi, bukanlah yang menjadi sumber masalah adalah persoalan intisab/penyandaran diri. Sedangkan Allah jalla wa ‘ala menyatakan (yang artinya), “Dan orang-orang yang mengikuti mereka [sahabat] dengan ihsan/baik.” (QS. At-Taubah: 100). Artinya -mengikuti- dengan itqan/mapan dan benar. Dan anda tidak akan bisa mapan dan benar dalam meniti madzhab salaf kecuali apabila anda mengenali dan mempelajarinya. Dan anda tidaklah [disebut] berpegang teguh dengannya kecuali apabila anda bersabar di atasnya…

[lihat Manhaj as-Salaf ash-Shalih wa Haajatul Ummah Ilaih, hal. 11]

Dari keterangan-keterangan di atas -yang sangat jelas dan gamblang- kiranya kita bisa menggarisbawahi beberapa poin penting. Diantaranya adalah :

  1. Yang dimaksud dengan istilah ‘manhaj salaf’ adalah mencakup jalan salafus shalih dalam hal akidah, mu’amalah, dan akhlak [demikian pula ibadah, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdullah bin Shalfiq di atas]. Bahkan Syaikh al-Fauzan menegaskan bahwa manhaj ini meliputi segala urusan [agama]. Sebagaimana dinukil dari Imam al-Barbahari, bahwa Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam. Dan ditegaskan oleh Syaikh Abdullah bin Shalfiq bahwa manhaj salaf adalah islam dan islam itulah manhaj salaf. Hal ini menunjukkan bahwa anggapan sebagian orang bahwa masalah manhaj adalah masalah-masalah khusus yang lebih sempit daripada pengertian di atas -akidah, mu’amalah, ibadah, dan akhlak- adalah kurang tepat.
  2. Manhaj salaf ini diambil dan bersumber dari al-Kitab dan as-Sunnah. Dengan bahasa yang lebih sederhana, bisa kita katakan; bahwa orang yang sedang belajar atau mengkaji ilmu al-Kitab dan as-Sunnah pada hakikatnya dia adalah sedang belajar manhaj salaf. Tentu saja harus melalui bimbingan para ulama. Oleh sebab itu Syaikh Abdullah bin Shalfiq di atas juga menekankan betapa pentingnya jalinan erat antara umat dengan ilmu dan para ulamanya. Dari sinilah kita bisa mengetahui betapa pentingnya para penimba ilmu mengkaji tafsir al-Qur’an dan syarah-syarah hadits, di samping mengkaji akidah salaf dan syari’at islam melalui kitab-kitab terpercaya. Karena dengan cara itulah mereka akan mengenali manhaj salaf itu sendiri.
  3. Kita tidak akan bisa mengikuti jalan salafus shalih dengan baik kecuali dengan menimba ilmu dan bersabar di atasnya. Tidak cukup menyandarkan diri kepada salafus shalih tanpa dibarengi dengan upaya belajar dan mendalaminya. Di samping itu perkara lain yang tidak boleh kita lalaikan ialah senantiasa memohon hidayah kepada Allah agar menunjukkan kepada kita jalan yang lurus.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sebuah Pertanyaan dan Jawaban

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya:

Sering kami dapati orang-orang yang menyeru manusia kepada tauhid di berbagai negara Islam justru berpecah-belah dan terbagi menjadi berkelompok-kelompok. Sementara mereka semua mengajak kepada tauhid, sungguh memprihatinkan; padahal [bukankah] akidah itu akan mewujudkan persatuan dan bukan malah memecah-belah?

Beliau menjawab:

Menurut saya, hal ini tidak benar. Saya tidaklah mengira bahwa orang-orang yang suka berpecah-belah itu mengajak kepada tauhid. Sebab seandainya mereka menyeru kepada tauhid niscaya mereka tidak akan berpecah-belah. Akan tetapi sesungguhnya mereka itu adalah mengajak kepada pemikiran-pemikiran dan jalan-jalan [yang menyimpang, pent]. Masing-masing punya jalan sendiri. “Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada diri mereka.” (QS. al-Mu’minun: 53 dan ar-Ruum: 32).

Sebab pada hakikatnya, seandainya mereka itu berdakwah kepada tauhid dengan cara dakwah yang benar pastilah mereka akan bersatu dan berkumpul. Karena tauhid itulah yang menyatukan orang-orang terdahulu sebelum kita, dan tauhid itu pula yang bisa menyatukan kita dan menyatukan orang-orang setelah kita. Sesungguhnya kebodohan tentang tauhid, atau karena ketidakseriusan dalam memperhatikan masalah [tauhid] ini, itulah sebenarnya faktor yang memecah-belah para da’i.

[lihat Mazhahir Dha’fil ‘Aqidah Fi Hadzal ‘Ashr, hal. 31]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: