Sanjungan Allah dan Rasul-Nya Bagi Para Ulama

images (3)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Allah ta’ala berfirman,

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

 

“Allah bersaksi bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Dia, demikian juga bersaksi para malaikat dan orang-orang yang berilmu. Demi tegaknya keadilan. Tiada ilah/sesembahan yang benar selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali ‘Imran: 18)

Diantara keutamaan para ahli ilmu dan ulama yang terkandung di dalam ayat di atas ialah:

  1. Di dalam ayat ini, Allah menjadikan mereka [ulama] sebagai saksi, bukan umat manusia selain mereka [selain ulama]
  2. Allah mengiringkan persaksian mereka dengan persaksian diri-Nya
  3. Allah menyandingkan persaksian mereka dengan persaksian para malaikat-Nya
  4. Di dalamnya terkandung pujian dan rekomendasi bagi para ulama, karena Allah tidaklah menjadikan saksi kecuali dari kalangan orang yang adil/salih dan terpercaya
  5. Allah menyebut mereka sebagai ulul ‘ilmi; orang-orang yang memiliki ilmu, hal ini menunjukkan keistimewaan mereka dalam hal ilmu, dan bahwasanya merekalah orang yang mengemban dan memilikinya
  6. Allah menjadikan mereka sebagai saksi atas perkara yang sangat mulia yaitu syahadat laa ilaha illallah. Tidaklah dijadikan saksi dalam suatu perkara yang besar kecuali orang-orang yang utama [lihat al-‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 21-22]

Allah ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Hanya saja merasa takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya adalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28)

Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata, “Khosy-yah adalah rasa takut yang menghalangi dirimu dari melakukan perbuatan maksiat kepada Allah ‘azza wa jalla.”

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Bukanlah ilmu diperoleh dengan banyaknya hadits, akan tetapi hakikat ilmu itu adalah dengan banyaknya rasa takut.”

Imam Malik rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ilmu bukanlah dengan banyaknya riwayat. Akan tetapi sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya yang ditanamkan Allah ke dalam hati.”

[lihat atsar-atsar ini dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 6/545]

ar-Rabi’ bin Anas rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak memiliki khosy-yah/rasa takut kepada Allah ta’ala maka dia bukanlah seorang ‘alim.”

Mujahid rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang berilmu itu hanyalah yang senantiasa merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla.”

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai tanda keilmuan, dan terpedaya dengan nikmat-Nya sebagai tanda kebodohan.”

Ada seorang yang bertanya kepada Sa’ad bin Ibrahim rahimahullah, “Siapakah orang yang paling fakih/paham agama diantara ulama di Madinah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang paling bertakwa diantara mereka kepada Rabbnya ‘azza wa jalla.”

Mujahid rahimahullah mengatakan, “Hanya saja seorang fakih itu adalah orang yang merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla.”

[lihat atsar-atsar ini dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 17/375-376]

Ada seorang yang berkata kepada asy-Sya’bi rahimahullah, “Berikanlah fatwa kepadaku wahai ‘alim.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya orang yang ‘alim adalah yang senantiasa merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla.”

[lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 1071]

Allah ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah: Apakah sama antara orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?” (QS. Az-Zumar: 9)

Allah ta’ala berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada ahli dzikir/ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya maka Allah pahamkan dia dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abud Darda’ radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu [agama] maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Dan sesungguhnya para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya bagi penimba ilmu karena ridha dengan perbuatannya. Sesungguhnya seorang ‘alim akan dimintakan ampunan oleh segala makhluk yang ada di langit dan di bumi, bahkan sampai oleh ikan yang ada di lautan. Keutamaan seorang ‘alim atas seorang ‘abid/ahli ibadah seperti keutamaan rembulan di atas seluruh bintang-bintang. Para ulama itu adalah pewaris para nabi. Dan para nabi tidaklah mewariskan uang dinar ataupun dirham. Akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya maka sungguh dia telah mengambil jatah warisan yang sangat banyak.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, hadits hasan)

Diriwayatkan, bahwa ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata, “Cukuplah sebagi tanda kemuliaan ilmu ketika ada orang-orang yang mengklaim berilmu padahal dia tidak berilmu dan ia merasa bangga apabila dia disebut berilmu. Dan cukuplah sebagai tanda tercelanya kebodohan ketika orang yang memang bodoh berlepas diri darinya/tidak mau dikatakan bodoh.” [lihat Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, hal. 41]

Abul Aswad ad-Du’ali rahimahullah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia daripada ilmu. Para raja adalah penguasa atas manusia, sedangkan para ulama adalah penguasa atas para raja.” [lihat Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, hal. 42]

Sahl bin Abdullah at-Tustari rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang ingin melihat majelis para nabi maka lihatlah kepada majelis para ulama. Oleh sebab itu kenalilah keutamaan mereka itu.” [lihat Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, hal. 43]

Sufyan ats-Tsauri dan Imam Syafi’i rahimahumallahu berkata, “Tidak ada setelah amal-amal wajib suatu amalan yang lebih utama daripada menimba ilmu.” [lihat Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, hal. 43]

Imam Ibnu Jama’ah rahimahullah berpesan, ”Ketahuilah, bahwasanya segala sanjungan yang diberikan kepada ilmu dan ulama ini hanya berlaku bagi orang-orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya, orang-orang yang baik dan bertakwa. Mereka yang meniatkan dengan ilmunya untuk meraih wajah Allah yang mulia. Mereka yang bermaksud dengan ilmunya untuk mencari kedekatan diri di sisi-Nya di surga-surga yang penuh dengan kenikmatan. Bukan orang yang mencari ilmu dengan niat buruk, atau dibarengi perilaku yang kotor. Atau mencari ilmu dalam rangka mengejar kepentingan dan ambisi-ambisi dunia. Berupa kedudukan, harta, atau berbanyak-banyakan pengikut dan santri/penimba ilmu…” [lihat Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, hal. 45]

Abu Abdillah ar-Rudzabari rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu sementara yang dia inginkan semata-mata ilmu, ilmunya tidak akan bermanfaat baginya. Dan barangsiapa yang berangkat menimba ilmu untuk mengamalkan ilmu, niscaya ilmu yang sedikit pun akan bermanfaat baginya.” [lihat al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 71]

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata: Dahulu ibuku berpesan kepadaku, “Wahai anakku, janganlah kamu menuntut ilmu kecuali jika kamu berniat mengamalkannya. Kalau tidak, maka ia akan menjadi bencana bagimu di hari kiamat.” [lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 579]

Masruq rahimahullah berkata, “Cukuplah menjadi tanda keilmuan seorang tatkala dia merasa takut kepada Allah. Dan cukuplah menjadi tanda kebodohan seorang apabila dia merasa ujub dengan amalnya.” [lihat Min A’lam as-Salaf [1/23]]

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Orang yang diberikan kenikmatan kepada mereka itu adalah orang yang mengambil ilmu dan amal. Adapun orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengambil ilmu dan meninggalkan amal. Dan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang mengambil amal namun meninggalkan ilmu.” [lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 25]

al-Hasan rahimahullah menafsirkan makna firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Wahai Rabb kami berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.” Beliau mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Adapun kebaikan di akhirat adalah surga.” [lihat Akhlaq al-‘Ulama, hal. 40]

Abu Ja’far al-Baqir Muhammad bin ‘Ali bin al-Husain rahimahullah berkata, “Seorang alim [ahli ilmu] yang memberikan manfaat dengan ilmunya itu lebih utama daripada tujuh puluh ribu orang ahli ibadah.” [lihat Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 131]

Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata, “Barangsiapa melakukan suatu amal tanpa landasan ilmu maka apa-apa yang dia rusak itu justru lebih banyak daripada apa-apa yang dia perbaiki.” [lihat Jami’ Bayan al-‘Ilmi wa Fadhlihi, hal. 131]

Ibnu Mubarak rahimahullah berkata, “Semestinya orang yang paling banyak ilmunya diantara kalian adalah orang yang paling besar rasa takutnya.” [lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 312]

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ilmu lebih diutamakan daripada perkara yang lain karena dengannya -manusia- bisa bertakwa.” [lihat Manaqib al-Imam al-A’zham Abi ‘Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri, hal. 30]

Ibnu Mubarak rahimahullah berkata, “Kami mencari ilmu untuk dunia maka ilmu justru menunjukkan kepada kami untuk meninggalkan dunia.” [lihat Min A’lam as-Salaf [2/30]]

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Bukanlah seorang alim [ahli ilmu] orang yang mengetahui kebaikan dan keburukan akan tetapi sesungguhnya orang yang alim adalah yang mengetahui kebaikan lalu mengikutinya dan mengetahui keburukan lalu berusaha menjauhinya.” [lihat Min A’lam as-Salaf [2/81]]

Imam Ibnul Qoyyim rahimahulllah berkata, “… Seandainya ilmu bisa bermanfaat tanpa amalan niscaya Allah Yang Maha Suci tidak akan mencela para pendeta Ahli Kitab. Dan jika seandainya amalan bisa bermanfaat tanpa adanya keikhlasan niscaya Allah juga tidak akan mencela orang-orang munafik.” [lihat al-Fawa’id, hal. 34]

Marilah kita memohon kepada Allah ilmu yang bermanfaat…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: