Iman, Aqidah, Sunnah, dan Tauhid

a039909e66e1c61682ae9bf44e104649

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan:

Aqidah adalah hal-hal yang diyakini di dalam hati dan dipastikan olehnya. Ia disebut dengan aqidah, bisa juga disebut dengan ‘iman’; sebagaimana para salaf dahulu menamainya dengan istilah ‘iman’. Dan ia juga bisa disebut dengan nama ‘as-Sunnah’.

Oleh sebab itulah anda temukan bahwasanya karya-karya ulama salaf itu berbeda-beda namanya. Sebagian diberi judul ‘iman’ atau ‘ushul/pokok keimanan’. Sebagian yang lain diberi judul dengan nama ‘as-Sunnah’. Seperti contohnya adalah kitab as-Sunnah karya Abdullah putra Imam Ahmad, kitab as-Sunnah karya al-Atsram. Demikian pula kitab Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah karya al-Laalikaa’i.

Diantara para ulama ada yang menyebut perkara aqidah dengan sebutan ‘iman’. Diantara ulama juga ada yang menyebutnya dengan nama ‘aqidah’. Dan diantara mereka ada yang menamainya dengan sebutan ‘tauhid’.

Itu adalah nama-nama yang berlainan akan tetapi maknanya satu. Setiap nama ini diambil dari dalil-dalil. Ia bukan sekedar istilah -buatan manusia- sebagaimana dikatakan oleh sebagian kalangan. Dari sanalah para ulama memberikan perhatian besar terhadap masalah ini yaitu persoalan aqidah, iman, atau as-Sunnah. 

Mereka mencurahkan perhatian yang sangat besar terhadap hal ini. Mereka menekuni hal ini dengan serius. Mereka pun menyusun banyak karya tulis untuk menjelaskan masalah ini, menerangkan pokok-pokoknya, dan menjabarkan dalil-dalilnya. Karena masalah ini menjadi asas/pondasi tegaknya agama. Mereka menulis dalam bidang ini baik dalam bentuk prosa ataupun sajak. Di dalamnya mereka kumpulkan dalil-dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah.

[lihat Syarh ad-Durrah al-Mudhiyyah, hal. 13]

Bukan Basa-Basi

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah memberikan penegasan tentang pentingnya belajar aqidah. Beliau berkata :

Keislaman tidak bisa terwujud dan tidak akan benar kecuali apabila aqidahnya benar. Artinya apabila aqidahnya tidak benar otomatis islamnya juga tidak benar. Sementara sekedar memakai nama islam tidaklah mencukupi. Karena tidak bisa tidak harus dibarengi dengan perealisasian aqidah dan merealisasikan iman sehingga keislaman menjadi benar.

Dengan cara itulah penamaan diri dengan Islam menjadi hakiki -bukan hanya basa-basi, pent-. Adapun sekedar memakai nama Islam sementara di sisi lain pokok-pokok ajaran Islam justru disia-siakan, aqidah yang benar pun dicampakkan, maka sesungguhnya dalam kondisi semacam itu tidaklah tersisa keislaman yang benar.

[lihat Syarh ad-Durrah al-Mudhiyyah, hal. 14]

Urgensi Aqidah Islam

Dalam kesempatan lainnya, Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan:

Aqidah tauhid ini merupakan asas agama. Semua perintah dan larangan, segala bentuk ibadah dan ketaatan, semuanya harus dilandasi dengan aqidah tauhid. Tauhid inilah yang menjadi kandungan dari syahadat laa ilaha illallah wa anna Muhammadar rasulullah.

Dua kalimat syahadat yang merupakan rukun Islam yang pertama. Maka, tidaklah sah suatu amal atau ibadah apapun, tidaklah ada orang yang bisa selamat dari neraka dan bisa masuk surga, kecuali apabila dia mewujudkan tauhid ini dan meluruskan aqidahnya.

[lihat Ia’nat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid [1/17] cet. Mu’assasah ar-Risalah]

Laksana Pondasi Bagi Suatu Bangunan

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah menerangkan, bahwa kedudukan aqidah bagi ilmu-ilmu maupun amal-amal yang lain laksana pondasi bagi sebuah bangunan. Laksana pokok bagi sebatang pohon. Sebagaimana halnya sebuah bangunan tidak bisa berdiri tanpa pondasi dan pohon tidak akan tegak tanpa pokok-pokoknya, maka demikian pula amal dan ilmu yang dimiliki seseorang tidak akan bermanfaat tanpa aqidah yang lurus.

Oleh sebab itu perhatian kepada masalah aqidah harus lebih diutamakan daripada perhatian kepada masalah-masalah apapun; apakah itu kebutuhan makanan, minuman, atau pakaian. Karena aqidah itulah yang akan memberikan kepada seorang mukmin kehidupan yang sejati, yang dengannya jiwanya akan menjadi bersih, yang dengannya amalnya menjadi benar, yang dengannya ketaatan bisa diterima, dan dengan sebab itu pula derajatnya akan semakin meninggi di hadapan Allah ‘azza wa jalla

[lihat Tadzkiratul Mu’tasi Syarh Aqidah al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi, hal. 8 cet. I, 1424 H]

Pokok-Pokok Agama

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Ikhlas adalah hakikat agama Islam. Karena islam itu adalah kepasrahan kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Maka barangsiapa yang tidak pasrah kepada Allah sesungguhnya dia telah bersikap sombong. Dan barangsiapa yang pasrah kepada Allah dan kepada selain-Nya maka dia telah berbuat syirik.

Dan kedua-duanya, yaitu sombong dan syirik bertentangan dengan islam. Oleh sebab itulah pokok ajaran islam adalah syahadat laa ilaha illallah; dan ia mengandung ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selain-Nya. Itulah keislaman yang bersifat umum yang tidaklah menerima dari kaum yang pertama maupun kaum yang terakhir suatu agama selain agama itu.

Sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia pasti akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85).

Ini semua menegaskan kepada kita bahwasanya yang menjadi pokok agama sebenarnya adalah perkara-perkara batin yang berupa ilmu dan amalan hati, dan bahwasanya amal-amal lahiriyah tidak akan bermanfaat tanpanya.

[lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 30]

Wajib Di Sepanjang Waktu

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:

Barangsiapa yang mencermati syari’at, pada sumber-sumber maupun ajaran-ajarannya. Dia akan mengetahui betapa erat kaitan antara amalan anggota badan dengan amalan hati. Bahwa amalan anggota badan tak akan bermanfaat tanpanya. Dan amalan hati lebih wajib daripada amalan anggota badan.

Apakah yang membedakan antara mukmin dengan munafik kalau bukan karena amalan yang tertanam di dalam hati masing-masing di antara mereka berdua? Penghambaan/ibadah hati itu lebih agung daripada ibadah anggota badan, lebih banyak dan lebih kontinyu. Karena ibadah hati wajib di sepanjang waktu. [lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 14-15]

Bagaikan Ruh Di Dalam Tubuh

Ibnul Qayyim rahimahullah juga menegaskan:

Amalan-amalan hati itulah yang paling pokok, sedangkan amalan anggota badan adalah konsekuensi dan penyempurna atasnya. Sebagaimana niat itu menduduki peranan seperti halnya ruh, sedangkan amalan itu laksana tubuh. Itu artinya, jika ruh berpisah dari jasad, maka jasad itu akan mati. Oleh sebab itu memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan gerak-gerik hati itu lebih penting daripada mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan gerak-gerik anggota badan. [lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 15]  

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah iman itu dicapai semata-mata dengan menghiasi penampilan atau berangan-angan, akan tetapi iman adalah apa yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” [lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1124]

Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata, “Iman itu telanjang sedangkan pakaiannya adalah ketakwaan. Hartanya adalah fikih (ilmu agama). Adapun perhiasannya adalah rasa malu.” [lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1176]

Sumber Kebahagiaan

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Tidak ada suatu perkara yang memiliki dampak yang baik serta keutamaan beraneka ragam seperti halnya tauhid. Karena sesungguhnya kebaikan di dunia dan di akherat itu semua merupakan buah dari tauhid dan keutamaan yang muncul darinya.” [lihat al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 16]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: