Makna dan Hakikat Ibadah [Bagian 4]

images

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Kaum muslimin yang dirahmati Allah.

Berikut ini lanjutan dari pembahasan sebelumnya mengenai makna dan hakikat ibadah. Yaitu mengenai cakupan makna ibadah dan perkara penting yang harus ada bersamanya. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Cakupan Makna Ibadah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ibadah merupakan sebuah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa ucapan dan perbuatan, yang batin maupun lahir. Ini artinya sholat, zakat, puasa, haji, jujur dalam berbicara, menunaikan amanat, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali kekerabatan, menepati janji, memerintahkan yang ma’ruf, melarang yang mungkar, berjihad memerangi orang kafir dan munafik, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, maupun -berbuat baik kepada- kepemilikan dari kalangan manusia (budak) atau binatang piaraan, berdoa, berdzikir, membaca al-Qur’an, dan lain sebagainya itu semua adalah ibadah. Demikian juga kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya, rasa takut kepada Allah, inabah kepada-Nya, mengikhlaskan agama untuk-Nya, bersabar menghadapi ketetapan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, ridha dengan takdir-Nya, bertawakal kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya, takut kepada azab-Nya, dan semisalnya [itu semua juga] termasuk ibadah kepada Allah.” [lihat al-‘Ubudiyah, hal. 6 cet. Maktabah al-Balagh]

Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah menerangkan, “Dengan ungkapan lain, dapat dikatakan bahwa ibadah adalah melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tercakup di dalamnya menunaikan kewajiban-kewajiban dan menjauhkan diri dari berbagai hal yang diharamkan. Melakukan hal-hal yang wajib dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan; yaitu dengan melakukan kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang bersifat batin maupun lahir. Meninggalkan hal-hal yang diharamkan, baik yang berupa ucapan maupun perbuatan, yang batin maupun yang lahir.” [lihat Syarh al-‘Ubudiyah, hal. 5]  

Dari keterangan kedua ulama di atas, bisa kita simpulkan bahwa ibadah mencakup dua bagian pokok yaitu ucapan dan perbuatan. Kemudian, ucapan dan perbuatan ini bisa dibagi lagi menjadi dua, yaitu ucapan lahir dan ucapan batin, serta perbuatan lahir dan perbuatan batin. Kemudian, ucapan dan perbuatan -baik lahir maupun batin- bisa dikelompokkan menjadi dua yaitu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Sehingga, melaksanakan perintah meliputi ucapan dan perbuatan, baik lahir maupun batin. Demikian juga meninggalkan larangan, ia mencakup meninggalkan ucapan yang dilarang dan meninggalkan perbuatan yang dilarang, baik lahir maupun batin.

Segala macam ibadah ini wajib ditujukan kepada Allah semata. Karena ibadah adalah hak-Nya. Hanya Allah yang berhak menerimanya. Sehingga mempersembahkan ibadah semata-mata kepada Allah adalah keadilan, sedangkan mempersekutukan selain Allah dalam hal ibadah kepada-Nya adalah kezaliman, bahkan inilah kezaliman terbesar.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus para utusan Kami dengan keterangan-keterangan yang jelas dan Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca agar umat manusia menegakkan keadilan.” (QS. Al-Hadid: 25)

Ibnul Qayyim berkata, “Allah subhanahu mengabarkan bahwasanya Dia telah mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya supaya umat manusia menegakkan timbangan (al-Qisth) yaitu keadilan. Diantara bentuk keadilan yang paling agung adalah tauhid. Ia adalah pokok keadilan dan pilar penegaknya. Adapun syirik adalah kezaliman yang sangat besar. Sehingga, syirik merupakan tindak kezaliman yang paling zalim, dan tauhid merupakan bentuk keadilan yang paling adil.” [lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 145]

Beliau juga berkata, “Sesungguhnya orang musyrik adalah orang yang paling bodoh tentang Allah. Tatkala dia menjadikan makhluk sebagai sesembahan tandingan bagi-Nya. Itu adalah puncak kebodohan terhadap-Nya, sebagaimana hal itu merupakan puncak kezaliman dirinya. Sebenarnya orang musyrik tidak menzalimi Rabbnya. Karena sesungguhnya yang dizaliminya adalah dirinya sendiri.” [lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 145]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya iman -pokok maupun cabang-cabangnya, batin maupun lahirnya- semuanya adalah keadilan, dan lawannya adalah kezaliman. Keadilan tertinggi dan pokok utamanya adalah pengakuan dan pemurnian tauhid kepada Allah, beriman kepada sifat-sifat Allah dan nama-nama-Nya yang terindah, serta mengikhlaskan agama [ketaatan] dan ibadah kepada-Nya. Adapun kezaliman yang paling zalim dan paling berat adalah syirik kepada Allah, sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13).” [lihat Bahjat al-Qulub al-Abrar, hal. 63 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah] 

Firman-Nya (yang artinya), “Dan Rabbmu menetapkan agar kalian tidak beribadah kecuali kepada-Nya semata, dan berbaktilah kepada kedua orang tua…” (QS. Al-Israa’: 23)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menerangkan, “Hal ini menafsirkan hakikat tauhid. Yaitu beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah kepada segala sesuatu selain-Nya. Adapun ibadah kepada Allah namun tidak disertai dengan sikap meninggalkan ibadah kepada selain-Nya, maka hal ini tidaklah disebut sebagai tauhid.”

“Orang-orang musyrik beribadah kepada Allah, namun mereka juga beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya. Oleh sebab itu jadilah mereka kaum musyrikin. Sehingga bukanlah yang terpenting adalah bagaimana seorang insan itu beribadah kepada Allah, itu saja. Akan tetapi, yang terpenting adalah hendaknya dia beribadah kepada Allah dan meninggalkan ibadah/penghambaan kepada selain-Nya.”

“Kalau tidak demikian, maka tidaklah dia menjadi hamba Allah yang sejati. Tidak pula dia dikatakan sebagai ahli tauhid/muwahhid. Oleh sebab itu orang yang mengerjakan sholat, berpuasa, dan berhaji, namun tidak meninggalkan ibadah kepada selain Allah maka dia bukanlah muslim. Tidak bermanfaat baginya sholat, puasa, dan hajinya. Karena dia tidak menunaikan kandungan firman Allah (yang artinya), “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” Demikian juga, “Rabbmu menetapkan supaya kalian tidak beribadah kecuali kepada-Nya semata.” Artinya; janganlah kalian beribadah kepada selain-Nya di samping beribadah kepada-Nya…” [lihat I’anat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid, 1/38-39]  

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Apabila engkau telah mengetahui bahwasanya Allah menciptakan dirimu supaya beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwasanya ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah kecuali apabila disertai dengan tauhid. Sebagaimana halnya sholat tidak dinamakan sholat tanpa thaharah/bersuci. Apabila syirik mencampuri ibadah niscaya ibadah itu akan rusak (tidak sah) sebagaimana halnya apabila hadats masuk kepada thaharah.” [lihat Mu’allafat asy-Syaikh al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 199]

Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata, “Setiap amal yang dipersembahkan oleh orang tanpa dibarengi tauhid atau pelakunya terjerumus dalam syirik maka hal itu tidak ada harganya dan tidak memiliki nilai sama sekali untuk selamanya. Karena ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah [yang benar] tanpa tauhid. Apabila tidak disertai tauhid, maka bagaimanapun seorang berusaha keras dalam melakukan sesuatu yang tampilannya adalah ibadah seperti bersedekah, memberikan pinjaman, dermawan, suka membantu, berbuat baik kepada orang dan lain sebagainya, padahal dia telah kehilangan tauhid dalam dirinya, maka orang semacam ini termasuk dalam kandungan firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Kami tampakkan kepada mereka segala sesuatu yang telah mereka amalkan -di dunia- kemudian Kami jadikan amal-amal itu laksana debu yang beterbangan.” (QS. al-Furqan: 23).” [lihat Abraz al-Fawa’id min al-Arba’ al-Qawa’id, hal. 11]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: