Makna dan Hakikat Ibadah [Bagian 3]

7

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Kaum muslimin yang dirahmati Allah.

Berikut ini lanjutan dari pembahasan sebelumnya mengenai makna dan hakikat ibadah. Yaitu mengenai pilar-pilar penegak ibadah. Semoga bermanfaat.

Pilar-Pilar Ibadah

Ibadah memiliki tiga pilar penyangga, yaitu kecintaan, harapan, dan rasa takut. Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Diantara ulama salaf ada yang mengatakan: Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan cinta semata, maka dia adalah zindik. Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan harapan semata, maka dia adalah Murji’ah. Barangsiapa yang beribadah kepada Allah dengan takut semata, maka dia adalah Haruri/Khawarij. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan cinta, takut, dan harap, maka dia lah seorang mukmin ahli tauhid.” [lihat al-‘Ubudiyah, hal. 99-100]

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, Ibadah yang diperintahkan itu harus mengandung unsur perendahan diri dan kecintaan. Ibadah ini mengandung tiga pilar; cinta, harap, dan takut. Ketiga unsur ini harus berpadu. Barangsiapa yang hanya bergantung kepada salah satu unsur saja maka dia belum dianggap beribadah kepada Allah dengan sebenarnya. Beribadah kepada Allah dengan modal cinta saja adalah metode kaum Sufi. Beribadah kepada-Nya dengan modal rasa harap semata adalah metode kaum Murji’ah. Adapun beribadah kepada-Nya dengan modal rasa takut belaka adalah jalannya kaum Khawarij.” [lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 35]

Diantara ketiga pilar ini, maka yang menjadi pokok utama ibadah adalah kecintaan atau mahabbah. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “…Pokok semua amalan adalah kecintaan. Seorang manusia tidak akan melakukan amalan/perbuatan kecuali untuk apa yang dicintainya, bisa berupa keinginan untuk mendapatkan manfaat atau demi menolak mudharat. Apabila dia melakukan sesuatu; maka bisa jadi hal itu terjadi karena untuk mendapatkan sesuatu yang disenangi karena barangnya seperti halnya makanan, atau karena sebab lain yang mendorongnya seperti halnya mengkonsumsi obat. Adapun ibadah kepada Allah itu dibangun di atas kecintaan, bahkan ia merupakan hakikat/inti daripada ibadah. Sebab seandainya kamu melakukan sebentuk ibadah tanpa ada unsur cinta niscaya ibadahmu terasa hampa tidak ada ruhnya sama sekali di dalamnya…” [lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [2/3] cet. Maktabah al-‘Ilmu]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Pokok dan ruh ketauhidan adalah memurnikan rasa cinta untuk Allah semata, dan hal itu merupakan pokok penghambaan dan penyembahan kepada-Nya. Bahkan, itulah hakikat dari ibadah. Tauhid tidak akan sempurna sampai rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya menjadi sempurna, dan kecintaan kepada-Nya harus lebih diutamakan daripada segala sesuatu yang dicintai. Sehingga rasa cintanya kepada Allah mengalahkan rasa cintanya kepada selain-Nya dan menjadi penentu atasnya, yang membuat segala perkara yang dicintainya harus tunduk dan mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan bisa menggapai kebahagiaan dan kemenangannya.” [lihat al-Qaul as-Sadid Fi Maqashid at-Tauhid, hal. 95]

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah juga menegaskan, “Kecintaan merupakan pokok agama Islam yang menjadi poros segala ajaran agama. Dengan kesempurnaan cinta maka sempurnalah agama islam -pada dirinya-, dan dengan berkurangnya cinta maka berkuranglah tauhid seorang insan. Yang dimaksud cinta di sini adalah kecintaaan penghambaan yang mengandung perendahan diri dan ketundukan serta ketaatan secara mutlak dan lebih mendahulukan dzat yang dicintai dari segala sesuatu selain-Nya. Kecintaan semacam ini murni untuk Allah, tidak boleh dipersekutukan dengan-Nya dalam hal ini sesuatu apapun.” [lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 84]

Oleh sebab itu, ibadah yang benar adalah ibadah yang dilandasi dengan kecintaan. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Menurut pengertian syari’at ibadah itu adalah suatu ungkapan yang memadukan antara kesempurnaan rasa cinta, ketundukan, dan rasa takut.” [lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [1/34] cet. al-Maktabah at-Taufiqiyah].

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, bahwa cinta atau mahabbah ini bisa dibagi menjadi empat macam, yaitu:

  1. Kecintaan kepada Allah; hal ini merupakan pokok keimanan dan tauhid
  2. Kecintaan fillah [karena Allah] yaitu mencintai para nabi Allah, para rasul dan pengikut-pengikut mereka. Mencintai segala sesuatu yang dicintai Allah, baik berupa amalan, masa, tempat, dsb. Kecintaan ini mengikuti kecintaan kepada Allah dan menjadi penyempurna/pelengkap atasnya
  3. Kecintaan ma’allah [kepada sesembahan selain Allah] yaitu kecintaan orang-orang musyrik kepada sesembahan mereka apakah itu berupa pohon, batu, manusia, malaikat, dsb. Ini merupakan sumber kesyirikan dan landasannya.
  4. Kecintaan yang thabi’i/telah menjadi naluri dan sifat dasar manusia, seperti mencintai/menyenangi makanan, minuman, pernikahan, pakaian, keluarga, dsb. Perkara-perkara ini apabila hukumnya mubah kemudian membantu dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah serta kecintaan kepada-Nya maka ia masuk dalam bab ibadah. Akan tetapi apabila ia justru memalingkan dari hal itu atau menjadi perantara menuju perkara yang tidak dicintai Allah, maka ia masuk ke dalam kategori hal-hal yang terlarang. Apabila tidak ada itu semua, maka ia termasuk dalam golongan perkara mubah/yang dibolehkan atau tidak ada dosa dan pahala atasnya. Demikian keterangan Syaikh dengan sedikit perubahan [lihat al-Qaul as-Sadid, bersama Kitab at-Tauhid, hal. 97]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: