Makna dan Hakikat Ibadah [Bagian 2]

01345888207

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Kaum muslimin yang dirahmati Allah.

Berikut ini lanjutan dari pembahasan sebelumnya mengenai makna dan hakikat ibadah. Yaitu mengenai syarat-syarat diterimanya ibadah. Semoga bermanfaat.

Syarat Diterimanya Ibadah

Selain harus mengikuti tuntunan syari’at, ibadah juga harus ikhlas. Inilah makna yang terkandung dalam firman Allah (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, bahwa yang dimaksud ‘amal salih’ adalah amal yang sesuai dengan syari’at. Sedangkan makna ‘tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun’ adalah amal yang dilakukan demi mengharap wajah Allah semata -yaitu amal yang ikhlas- amal yang tidak tercampuri dengan kesyirikan [lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 5/205]

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Sebagaimana setiap amal yang dilakukan bukan karena mengharap Allah ta’ala -tidak ikhlas- itu tidak mendapatkan pahala atas pelakunya, demikian pula amal yang tidak didasari perintah Allah dan Rasul-Nya, maka amal seperti itu akan tertolak kembali kepada pelakunya…” [lihat Ibnu Rajab al-Hanbali wa Atsaruhu fi Taudhih ‘Aqidah as-Salaf, 1/382]

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ibadah, ketaatan, dan melazimi jalan yang lurus adalah istilah-istilah yang maksudnya sama, yang memiliki dua pokok: pertama; tidak diibadahi kecuali Allah, kedua; Allah diibadahi dengan perintah dan syari’at-Nya, bukan beribadah kepada-Nya dengan hawa nafsu, persangkaan, dan bid’ah.” [lihat al-‘Ubudiyah, hal. 52]

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amalan jika ikhlas namun tidak benar maka tidak akan diterima. Demikian pula apabila amalan itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sampai ia ikhlas dan benar. Ikhlas itu jika diperuntukkan bagi Allah, sedangkan benar jika berada di atas Sunnah/tuntunan.” [lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 19 cet. Dar al-Hadits].

Ikhlas kepada Allah dan mengikuti ajaran Rasul merupakan ruh keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Amal yang tidak ikhlas dan tidak dilandasi keimanan tidak akan diterima. Demikian juga amal yang tidak mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya seluruh amal dan ucapan hanya akan menjadi sah/benar dan sempurna bergantung kepada tingkat iman dan keikhlasan yang bersemayam di dalam hati orang yang melakukannya.” [lihat at-Taudhih wa al-Bayan li Syajarah al-Iman, hal. 73]

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan dalam keadaan beriman, maka Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik, dan Kami akan membalas mereka dengan pahala yang jauh lebih baik daripada apa-apa yang mereka amalkan.” (QS. An-Nahl: 97)

Adapun amal yang tidak dibarengi dengan keimanan, tidak ikhlas, atau tidak di atas syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka itu hanya akan menjadi kesia-siaan dan penyesalan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami teliti segala amal yang pernah mereka lakukan itu, kemudian Kami jadikan ia laksana debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23) [lihat at-Taudhih wa al-Bayan li Syajarah al-Iman, hal. 73-74]

Dari keterangan di atas, kita mengetahui bahwa ibadah akan diterima apabila dilandasi dengan iman, dikerjakan dengan ikhlas, dan mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Dari sinilah penting bagi kita memahami dengan benar apa itu hakikat iman. Karena iman merupakan syarat diterimanya segala bentuk amal ibadah.

Imam Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah menjelaskan, “Iman adalah ucapan dengan lisan, keikhlasan dengan hati, dan amalan dengan anggota badan. Iman akan bertambah dengan bertambahnya amal dan berkurang dengan sebab berkurangnya amal. Sehingga iman bisa mengalami penambahan dan bisa mengalami pengurangan…” [lihat Qathfu al-Jana ad-Daani Syarh Muqaddimah Risalah al-Qairawani, hal. 142] 

Imam Bukhari rahimahullah mengatakan, “Aku telah bertemu dengan seribu lebih ulama di berbagai penjuru negeri. Tidaklah aku melihat seorang pun diantara mereka yang berbeda pendapat mengenai keyakinan bahwa iman itu terdiri ucapan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang.” [lihat Qathfu al-Jana ad-Daani, hal. 144]

Imam al-Ajurri rahimahullah menyatakan, “Bahwa iman adalah pembenaran di dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan.” [lihat dalam Syarh al-Manhaj al-Haq oleh Syaikh Abdurrazzaq al-Badr, hal. 44]

Diantara dalil yang menunjukkan bahwa amal tanpa keimanan tidak bermanfaat adalah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha. Beliau pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah! Ibnu Jud’an, dahulu di masa jahiliyah suka menyambung silaturahmi dan memberi makan orang miskin. Apakah hal itu bermanfaat baginya?” Beliau menjawab, “Tidak bermanfaat baginya. Sesungguhnya dia tidak pernah sehari pun berdoa ‘Wahai Rabbku, ampunilah dosa-dosaku pada hari kiamat.’.” (HR. Muslim)

Diantara dalil yang menunjukkan bahwa iman meliputi ucapan dan perbuatan adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau bersabda, “Iman terdiri dari tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah. Yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Muslim)

Ibadah kepada Allah yang dilandasi dengan keimanan dan keikhlasan inilah yang akan membuahkan kelezatan dan kebahagiaan bagi pelakunya. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya hati itu, apabila ia telah merasakan nikmatnya ibadah kepada Allah dan keikhlasan kepada-Nya, niscaya tidak ada baginya sesuatu apapun yang lebih manis, lebih lezat, dan lebih nikmat daripada hal itu.” [lihat al-‘Ubudiyah, hal. 74]

Beliau juga mengatakan, “Hati tidak akan menjadi baik, bahagia, merasakan kelezatan, kegembiraan, kesenangan, ketenangan, dan ketentraman kecuali dengan ibadah kepada Rabbnya, mencintai serta inabah/kembali kepada-Nya.” [lihat al-‘Ubudiyah, hal. 82]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: