Makna dan Hakikat Ibadah [Bagian 1]

tawheedL-13

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, berikut ini kami sajikan pembahasan seputar makna dan hakikat ibadah. Sebuah perkara yang sangat penting untuk kita pahami.

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menerangkan, bahwa ibadah secara bahasa bermakna perendahan diri dan ketundukan. Adapun secara syari’at, ibadah mencakup segala perkara yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, berupa ucapan dan amalan, yang lahir dan yang batin [lihat al-Mulakhkhash fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 9]

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan jin dan manusia. Allah pun mengutus segenap rasul dalam rangka mendakwahkan hal ini. Yaitu beribadah kepada-Nya; yang di dalamnya terkandung ma’rifat/pengenalan dan kecintaan kepada-Nya. Inabah/kembali kepada-Nya dan menghadap/berbakti sepenuhnya kepada-Nya. Dan berpaling dari segala -sesembahan- selain-Nya. Perlu juga dipahami, bahwa kesempurnaan ibadah itu tergantung pada ma’rifat/pengenalan seorang hamba kepada Allah. Semakin sempurna ma’rifat/pengenalan dirinya kepada Allah semakin sempurna pula ibadahnya [lihat Taisir al-Karim ar-Rahman oleh Syaikh as-Sa’di, hal. 815 dengan sedikit perubahan]

Hakikat ibadah ini bisa diringkas -sebagaimana penjelasan Syaikh Muhammad at-Tamimi- bahwa ibadah adalah; taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya [lihat Syarh al-Jami’ li ‘Ibadatillahi Wahdah, hal. 16]

Oleh sebab itu, kita dapati dalam sebagian tafsir ulama salaf bahwa makna ‘untuk beribadah kepada-Ku’ dalam ayat 56 surat adz-Dzariyat di atas adalah ‘untuk Aku berikan perintah dan larangan kepada mereka’. Demikianlah penafsiran Mujahid rahimahullah, sebagaimana dinukil oleh Imam al-Qurthubi [lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 19/507]

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Ibadah mencakup melakukan segala hal yang diperintahkan Allah dan meninggalkan segala hal yang dilarang Allah. Sebab jika seseorang tidak memiliki sifat seperti itu berarti dia bukanlah seorang ‘abid/hamba. Seandainya seorang tidak melakukan apa yang diperintahkan, orang itu bukan hamba yang sejati. Seandainya seorang tidak meninggalkan apa yang dilarang, orang itu bukan hamba yang sejati. Seorang hamba -yang sejati- adalah yang menyesuaikan dirinya dengan apa yang dikehendaki Allah secara syar’i.” [lihat Tafsir al-Qur’an al-Karim, Juz ‘Amma, hal. 15]

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, Ibadah dibangun di atas dua perkara; cinta dan pengagungan. Dengan rasa cinta maka seorang akan berjuang menggapai keridhaan sesembahannya (Allah). Dengan pengagungan maka seorang akan menjauhi dari terjerumus dalam kedurhakaan kepada-Nya. Karena kamu mengagungkan-Nya maka kamu pun merasa takut kepada-Nya. Dan karena kamu mencintai-Nya, maka kamu pun berharap dan mencari keridhaan-Nya.” [lihat asy-Syarh al-Mumti’ ‘ala Zaad al-Mustaqni’ [1/9] cet. Mu’assasah Aasam, tahun 1416 H].

Apabila kita rangkum menjadi satu penjelasan-penjelasan para ulama, bisa kita simpulkan bahwa hakikat ibadah itu adalah ‘perendahan diri kepada Allah yang dilandasi kecintaan dan pengagungan, dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya’. Demikianlah pengertian ibadah sebagaimana diterangkan oleh Syaikh al-Utsaimin rahimahullah [lihat Ahkam min al-Qur’an al-Karim, hal. 22] 

Dengan demikian, ibadah terdiri dari beberapa unsur pokok, yaitu:

  1. Perendahan diri kepada Allah
  2. Kecintaan kepada-Nya
  3. Pengagungan kepada-Nya
  4. Melaksanakan perintah-Nya
  5. Menjauhi larangan-Nya

Kemudian, apabila ditinjau kepada bentuk atau sarananya, maka ibadah mencakup segala hal yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tampak/lahir maupun yang tersembunyi/batin. Misalnya, sholat. Sholat adalah amal ibadah. Sholat ini akan menjadi benar dan sempurna jika dilakukan dengan penuh perendahan diri yang dibarengi kecintaan dan pengagungan kepada-Nya dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. [lihat penjelasan Syaikh al-Utsaimin dalam al-Qaul al-Mufid, 1/7]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: