Fikih Dakwah: Kerusakan Tidak Dilenyapkan Dengan Kerusakan

wwww

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Salah satu kaidah dalam agama Islam dan ini juga menjadi kaidah penting dalam hal dakwah ialah bahwa suatu kemadharatan/bahaya dan kerusakan tidak boleh disingkirkan dengan cara mendatangkan kemadharatan/bahaya dan kerusakan yang lain. Sebagaimana halnya kebatilan tidak boleh ditolak dengan kebatilan.

Makna kaidah ini adalah : Kemadharatan wajib untuk dihilangkan, akan tetapi tidak boleh ia dihilangkan dengan kemadharatan lain yang semisal dengannya. Apalagi dengan kemadharatan lain yang lebih besar bahayanya.

Kaidah ini sangat berkaitan erat dengan dua kaidah lainnya, yaitu:

  1. Apabila dua buah kerusakan bertemu maka hendaklah dijaga dari terkena kerusakan yang paling besar walaupun harus mengambil kerusakan yang lebih ringan
  2. Menolak kerusakan itu jauh lebih utama daripada sekedar mendapatkan kemaslahatan

Salah satu dalil kaidah ini adalah kisah seorang arab badui yang kencing di masjid. Kemudian sebagian orang pun bergegas ingin menghentikannya, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mereka dan tetap membiarkan si arab badui.

Hal itu dikarenakan, kencingnya arab badui di masjid adalah satu kemadharatan. Sementara apabila dia disuruh berhenti seketika itu juga maka hal itu bisa mengganggu kesehatan tubuhnya, atau mengotori pakaiannya. Oleh sebab itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menghilangkan kemadharatan dengan kemadharatan pula. 

Selain itu, dalil lainnya adalah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang tibanya suatu masa dimana penguasa-penguasa zalim menindas rakyat dan merampas hak-hak mereka. Kemudian, dalam kondisi semacam itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan rakyat ‘untuk tetap menunaikan hak mereka/penguasa dan meminta kepada Allah hak-hak mereka’.

Kezaliman para penguasa jelas kemadharatan bagi manusia, akan tetapi melawan kemadharatan ini dengan pemberontakan justru mengundang kemadharatan lain yang lebih besar, sehingga kemadharatan tidak boleh dihilangkan dengan kemadharatan pula.

Diantara cabang dari kaidah ini -dalam hal dakwah- adalah hendaknya seorang da’i -ketika dia mendapatkan berbagai bentuk kezaliman dan kedustaan dari musuh-musuhnya- jangan sampai dia membalas tindakan mereka sebagaimana apa yang telah mereka lakukan kepadanya, yaitu dengan melakukan kezaliman ataupun kedustaan.

Oleh sebab itu tidak boleh apabila seorang sedang membantah ahli bid’ah misalnya kemudian dia juga mencampuri bantahannya itu dengan kebatilan atau kebid’ahan walaupun itu hanya sedikit. Karena yang diperintahkan oleh agama adalah membantah mereka dengan penuh kejujuran dan keadilan.

[diringkas dari Qawa’id wa Dhawabith Fiqh Da’wah ‘inda Syaikhil Islam, hal. 110-114]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: