Hembusan Hikmah dan Nasihat Keimanan

7580811-shone-lamp-with-electric-plug-in-a-dark-place

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Bisyr bin al-Harits rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak orang yang sudah meninggal akan tetapi hati menjadi hidup dengan mengingat mereka. Dan betapa banyak orang yang masih hidup namun membuat hati menjadi mati dengan melihat mereka.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 468)

Nu’aim bin Hammad rahimahullah menceritakan: Adalah Ibnul Mubarok sering duduk berlama-lama di rumahnya. Maka ada orang yang bertanya kepadanya, “Apakah anda tidak merasa kesepian?”. Beliau menjawab, “Bagaimana aku akan kesepian, sementara aku bersama dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 470)

as-Sari as-Saqathi rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang mencapai kesempurnaan sampai dia lebih mengutamakan agamanya di atas syahwat/keinginan nafsunya. Dan tidaklah seorang itu akan binasa kecuali apabila dia telah lebih mengutamakan syahwatnya daripada agamanya.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 472)

Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan,”Barangsiapa yang mencela dirinya sendiri di hadapan banyak orang sesungguhnya dia telah memuji dirinya, dan hal itu adalah salah satu tanda riya’.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 543)

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Dahulu kami bertemu dengan orang-orang yang riya’ dengan ilmu yang mereka punyai. Namun sekarang, mereka telah berubah yaitu riya’ dengan ilmu yang tidak mereka miliki.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 567)

Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menimba ilmu untuk beramal maka Allah akan berikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa yang menimba ilmu bukan untuk beramal maka semakin banyak illmu akan justru membuatnya semakin bertambah congkak.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 575-576)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata kepada seseorang sembari menasihatinya, “Hati-hatilah kamu wahai saudaraku, dari riya’ dalam ucapan dan amalan. Sesungguhnya hal itu adalah syirik yang sebenarnya. Dan jauhilah ujub, karena sesungguhnya amal salih tidak akan terangkat dalam keadaan ia tercampuri ujub.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 578)

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Bukanlah tangisan sejati tangisan dengan mata, akan tetapi tangisan yang hakiki adalah tangisan hati.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 579)

Maimun bin Mihran rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amal-amal kalian itu sedikit, maka hendaklah yang sedikit ini kalian kerjakan dengan ikhlas.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 596)

Demikian yang bisa kami sajikan, semoga bermanfaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

[Fan Page: Kajian Islam al-Mubarok]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: