Belajar Menyalahkan Diri Sendiri

2585032-740291

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr: 1-3)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya maka Allah akan pahamkan dirinya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu)

Dalam sebuah khutbah Jum’at yang disampaikan di Ma’had al-Anshor Jogjakarta beberapa waktu yang silam, Syaikh Abdullah al-Mar’i hafizhahullah mengingatkan kita sebuah nasihat yang indah, “Ilmu adalah wasilah/sarana, sedangkan amal adalah ghoyah/tujuannya. Ilmu adalah pohon, sedangkan amal adalah buahnya.”

Beliau juga menasihatkan, “Diantara bentuk mengamalkan ilmu adalah bersemangat untuk memiliki akhlak yang baik.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mewasiatkan kepada kita untuk memiliki akhlak yang mulia. Diantara ciri orang munafik adalah akhlak yang buruk. Oleh sebab itu keimanan seorang hamba itu akan tercermin dalam akhlaknya.

Bahkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya. Diantara kemuliaan akhlak adalah dengan menahan diri kita dari menyakiti dan mengganggu saudara kita sesama muslim. Bukanlah seorang mukmin itu orang yang suka mencaci, mencela, ghibah, namimah, mengolok-olok, dan lain sebagainya. Hendaknya kita menahan diri dari menyakiti saudara kita, baik dengan ucapan atau perbuatan.

Termasuk di dalam akhlak yang mulia adalah dengan senantiasa bersangka baik kepada sesama saudara kita. Karena seorang mukmin itu akan selalu mencari udzur bagi saudaranya sedangkan orang munafik selalu berusaha mencari celah untuk menjatuhkan orang lain. Oleh sebab itu husnuzhan adalah akhlak kaum beriman dan akhlak para ulama.

Hendaknya kita bersangka baik kepada kaum muslimin secara umum dan terlebih lagi kepada sahabat-sahabat kita secara khusus. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita dari hasad dan saling membenci sesama muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mencontohkan kepada kita bagaimana semestinya bersangka baik kepada sesama muslim dan membela kehormatannya.

Kalau pun saudara kita memang salah, maka barangkali dia memiliki udzur. Seandainya dia memang benar-benar keliru, semoga kebaikan-kebaikannya bisa menghapuskan kesalahannya itu. Dan semestinya kita mendoakan agar Allah mengampuni dosanya. Oleh sebab itu hendaknya kita selalu menjaga husnuzhan ini dengan sesama muslim.

Diantara penyakit ganas yang menghancurkan umat ini adalah hasad dan kebencian, sebagaimana hal itu telah membinasakan umat-umat sebelum kita. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk menumbuhkan rasa cinta dengan sesama muslim, salah satunya adalah dengan menebarkan salam.

Allah juga melarang kita dari perbuatan saling berselisih dan berpecah-belah. Dan salah satu faktor utama timbulnya perpecahan adalah sifat hasad dan kebencian, su’uzhan dan saling membelakangi/memboikot. Dengan perpecah-belahan inilah muncul kelemahan dan kekacauan di tengah barisan umat Islam. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengibaratkan hubungan sesama muslim adalah seperti layaknya sebuah bangunan, yang satu sama lain saling memperkuat.

Syaikh hafizhahullah juga mengingatkan kita untuk tidak memiliki sifat kikir dalam kebaikan bagi diri kita maupun saudara-saudara kita. Hendaknya kita juga bersemangat untuk membela agama Allah ini dengan apa pun yang kita punya. Diantara bentuk mengamalkan ilmu pula hendaknya kita berusaha menjaga ukhuwah dan memelihara persatuan.

Demikianlah ringkasan isi khutbah beliau yang kami dengarkan via rekaman audio yang ada pada kami. Sungguh nasihat ini adalah nasihat bagi kita semuanya; kaum muslimin, terlebih lagi ahlus sunnah dan para penimba ilmu di negeri ini. Nasihat yang indah. Yang tentu saja tidak cukup untuk kita kagumi atau kita putar berulang-ulang. Akan tetapi lebih daripada itu, hendaknya kita berusaha melaksanakannya dalam kehidupan kita. Demikian itulah yang diajarkan salafus shalih kepada kita.

NB : Insya Allah file rekaman ceramah beliau akan kami upload di lain waktu. Qadarullah kami cari-cari di internet belum ketemu. Di laptop kami insya Allah masih ada.

Nasihat Para Ulama

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang sesuai dengan as-Sunnah maka dia adalah pengikut Sunnah [baca: Ahlus Sunnah]. Dan barangsiapa yang menyelisihi as-Sunnah maka dia bukanlah pengikut Sunnah.” (lihat Syarh al-’Aqidah al-Wasithiyah [1/53])

Masruq rahimahullah berkata, “Cukuplah menjadi tanda keilmuan seorang tatkala dia merasa takut kepada Allah. Dan cukuplah menjadi tanda kebodohan seorang apabila dia merasa ujub dengan amalnya.” (lihat Min A’lam as-Salaf [1/23])

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Wajib bagi setiap hamba untuk tidak bergantung dan bersandar hanya kepada amalnya, bagaimana pun baik dan konsisten ia dalam melakukannya. Janganlah dia terpedaya oleh ibadahnya, demikian pula karena banyaknya dzikirnya kepada Allah, dan ketaatan-ketaatan yang lainnya yang telah dia kerjakan.” (lihat ‘Asyara Qawa’id fi al-Istiqomah, hal. 28)

Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk diamalkan niscaya Allah berikan taufik kepadanya. Dan barangsiapa menuntut ilmu bukan untuk diamalkan maka ilmunya akan semakin membuatnya congkak.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 569)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah memahami agamanya orang yang tidak pandai menjaga lisannya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/84])

Di dalam al-Adzkar, Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, semestinya bagi setiap mukallaf/orang yang telah terkenan beban syariat untuk menjaga lisannya dari segala ucapan kecuali ucapan-ucapan yang tampak jelas kemaslahatannya. Apabila ternyata setara antara kemaslahatan berbicara atau tidak berbicara, maka yang dianjurkan adalah menahan diri darinya. Sebab bisa jadi ucapan-ucapan yang pada dasarnya mubah menyeret kepada ucapan yang haram atau makruh. Bahkan hal semacam ini banyak terjadi dan lebih dominan dalam kebiasaan -sebagian orang-. Padahal keselamatan diri -dari bahaya lisan- adalah sebuah perkara yang tidak bisa dinilai dengan sesuatu apapun.” (lihat al-Fitnah wa Aatsaruha al-Mudammirah, hal. 302)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Aku telah berjumpa dengan para fuqoha/ahli agama, dalam keadaan mereka tidak suka memberikan jawaban untuk masalah dan permintaan fatwa. Mereka tidak berfatwa kecuali dalam keadaan tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali harus berfatwa.” (lihat mukadimah Kitab az-Zuhd Mu’afa bin ‘Imran, hal. 58) 

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Bukanlah ilmu itu diperoleh -semata-mata- dengan banyaknya riwayat, akan tetapi hakikat ilmu itu adalah khas-yah/rasa takut kepada Allah.” (lihat al-Fawa’id, hal. 142) 

Rabi’ bin Anas rahimahullah mengatakan, “Tanda agama adalah mengikhlaskan amal untuk Allah, sedangkan tanda keilmuan adalah rasa takut kepada Allah.” (lihat al-Ikhlas wa an-Niyah, karya Imam Ibnu Abid Dun-ya, hal. 23)

Ibnu Mubarak rahimahullah berkata, “Semestinya orang yang paling banyak ilmunya diantara kalian adalah orang yang paling besar rasa takutnya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 312)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak khawatir tertimpa kemunafikan maka dia adalah orang munafik.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1218)

Ayyub as-Sakhtiyani rahimahullah berkata, “Setiap ayat di dalam al-Qur’an yang di dalamnya terdapat penyebutan mengenai kemunafikan, maka aku mengkhawatirkan hal itu ada di dalam diriku!” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1223)

Mu’awiyah bin Qurrah rahimahullah berkata, “Sungguh apabila pada diriku tidak terdapat kemunafikan itu lebih aku cintai daripada dunia dan segala yang ada padanya. Adalah ‘Umar radhiyallahu’anhu mengkhawatirkan dirinya tertimpa hal itu sedangkan aku justru merasa aman darinya!” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1223)

Ibrahim at-Taimi rahimahullah berkata, “Tidaklah aku menghadapkan/menguji ucapanku kepada amal yang aku lakukan, melainkan aku takut kalau aku menjadi orang yang didustakan.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1167)

Hisyam ad-Dastuwa’i rahimahullah berkata, “Demi Allah, aku tidak mampu untuk berkata bahwa suatu hari aku pernah berangkat untuk menuntut hadits dalam keadaan ikhlas karena mengharap wajah Allah ‘azza wa jalla.” (lihat Ta’thirul Anfas, hal. 254)

Muhammad bin Wasi’ rahimahullah berkata, “Seandainya dosa itu mengeluarkan bau niscaya  kalian tidak akan sanggup mendekat kepadaku, karena betapa busuknya bau [dosa] yang keluar dariku.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 365)

Qabishah bin Qais al-Anbari berkata: adh-Dhahhak bin Muzahim apabila menemui waktu sore menangis, maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab, “Aku tidak tahu, adakah diantara amalku hari ini yang terangkat naik/diterima Allah.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 18)

Ada seseorang yang datang menemui Maimun bin Mihran dan berkata kepadanya, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama engkau berada di tengah-tengah mereka.” Maka beliau mengatakan, “Umat manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka tetap bertakwa kepada Allah.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 536)

Imam Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata, “Tidaklah aku melihat seorang semisal Ahmad bin Hanbal. Kami telah bersahabat dengannya selama lima puluh tahun, meskipun demikian beliau sama sekali tidak pernah membanggakan kepada kami apa-apa yang ada pada dirinya berupa kesalihan dan kebaikan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 536)

Adalah Ibnu Muhairiz rahimahullah, apabila ada orang yang memuji-muji dirinya maka dia berkata, “Tidakkah kamu mengetahui? Apa sih yang kamu ketahui -tentang diriku, pent-?” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa‘, hal. 742)

Abdullah ibnu Mubarak rahimahullah berkata, “Jika seorang telah mengenali kadar dirinya sendiri [hawa nafsu] niscaya dia akan memandang dirinya jauh lebih hina daripada seekor anjing.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/29])

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Wahai orang yang malang. Engkau berbuat buruk sementara engkau memandang dirimu sebagai orang yang berbuat kebaikan. Engkau adalah orang yang bodoh sementara engkau justru menilai dirimu sebagai orang berilmu. Engkau kikir sementara itu engkau mengira dirimu orang yang pemurah. Engkau dungu sementara itu engkau melihat dirimu cerdas. Ajalmu sangatlah pendek, sedangkan angan-anganmu sangatlah panjang.” (lihat Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf, hal. 15) 

Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Sesungguhnya seorang alim/ahli ilmu apabila tidak beramal dengan ilmunya maka akan lenyaplah nasehat yang diberikannya dari hati manusia sebagaimana mengalirnya tetesan air hujan di atas batu.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 569)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata “… Tidaklah diragukan bahwasanya keikhlasan seorang da’i memiliki pengaruh yang kuat terhadap mad’u/objek dakwah. Apabila seorang da’i itu adalah orang yang ikhlas dalam niatnya. Dia juga menyeru kepada manhaj yang benar. Dia membangun dakwahnya di atas bashirah/hujjah dan ilmu mengenai apa yang dia serukan itu. Maka dakwah semacam inilah yang akan memberikan pengaruh/bekas kepada para mad’u…” (lihat al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As’ilah al-Manahij al-Jadidah, hal. 42)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Orang yang berbahagia adalah yang merasa khawatir terhadap amal-amalnya kalau-kalau itu tidak tulus ikhlas karena Allah dalam melaksanakan agama, atau barangkali apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah melalui lisan Rasul-Nya.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam, hal. 88)

Semoga nasihat yang singkat ini menjadi cermin dan pelajaran berharga bagi kita untuk kembali memperbaiki diri dan terus memperbaiki diri.  

One response

  1. […] Ringkasan isi khutbah beliau bisa dibaca di [sini] […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,742 other followers

%d bloggers like this: