Larangan Mencela Sahabat Nabi

The_Great_Sea

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Sa’id radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mencela seorang pun diantara para sahabatku. Karena seandainya salah seorang dari kalian berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud maka hal itu tidak bisa menandingi infak mereka yang hanya satu mud [dua genggaman tangan], atau bahkan setengahnya saja tidak.”

[lihat Shahih Muslim bersama al-Minhaj, 8/149-150]

al-Qadhi berkata, “Mencela salah seorang diantara mereka [sahabat Nabi] adalah termasuk perbuatan maksiat dan dosa besar. Madzhab kami dan madzhab mayoritas ulama menyatakan bahwa pelakunya harus diberikan hukuman pelajaran/ta’zir, namun tidak sampai dihukum bunuh. Sebagian ulama Malikiyah mengatakan bahwa pelakunya layak untuk dijatuhi hukuman bunuh.” [lihat al-Minhaj, 8/149]

Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma berkata, “Janganlah kalian mencela para sahabat Muhammad. Sungguh kebersamaan dan duduknya mereka -bersama Nabi- itu walaupun hanya sesaat jauh lebih baik daripada amalan salah seorang dari kalian seumur hidupnya.” [lihat al-Ibanah li Maa li ash-Shahabah minal Manzilah wa al-Makanah, hal. 180] 

Kejahatan Kaum Syi’ah

Diantara kelompok yang paling gencar mencaci dan mencela para sahabat adalah Kaum Rafidhah/Syi’ah. Abdullah bin Ahmad pernah bertanya kepada ayahnya -Imam Ahmad bin Hanbal-, “Siapakah yang dimaksud Rafidhah?”. Maka beliau menjawab, “Orang-orang yang suka mencela dan mencaci maki Abu Bakar dan ‘Umar -rahimahumallaahu-.” [lihat Mahdhu al-Ishabah, hal. 40-41] 

Kaum Rafidhah memiliki keyakinan bahwa para sahabat itu adalah kafir dan sesat kecuali segelintir diantara mereka. Oleh sebab itu mereka pun membenci para sahabat dan membolehkan celaan terhadap mereka, bahkan mereka ber-taqarrub/mendekatkan diri kepada Allah melalui celaan dan cacian itu. Ni’matullah al-Jaza’iri mengatakan, “Kaum Imamiyah/Syi’ah telah menyatakan dengan tegas mengenai keimaman ‘Ali dan mereka mengkafirkan para sahabat serta mencelanya…” [lihat Mahdhu al-Ishabah, hal. 43]

Salah seorang pembesar ulama Syi’ah yang bernama al-Kulaini di dalam Furu’ al-Kafi membawakan riwayat dusta atas nama keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, bahwa Ja’far ‘alaihis salam mengatakan, “Seluruh manusia setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berubah menjadi murtad kecuali tiga orang.” Lalu ditanyakan kepada belliau, “Siapakah tiga orang itu?”. Beliau menjawab, “al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi.” [lihat Min 'Aqa'id asy-Syi'ah, hal. 20]

Di dalam Bihar al-Anwar, al-Majlisi membuat pembahasan khusus yang berjudul, “Hadits-hadits yang menunjukkan kekafiran Abu Bakar dan ‘Umar serta orang-orang yang mendukung mereka berdua, pahala bagi orang yang melaknat mereka, keharusan berlepas diri dari mereka, bahwa bid’ah yang mereka lakukan terlalu banyak untuk disebutkan dalam satu jilid buku ini ataupun berjilid-jilid buku yang lain…” [lihat Min 'Aqa'id asy-Syi'ah, hal. 21]

al-Qumi salah seorang ulama Syi’ah mengatakan di dalam tafsirnya tentang firman Allah (yang artinya), “Dan dia melarang dari fakhsya’, mungkar dan baghyu.” (QS. an-Nahl: 90). Dia mengatakan, “Yang dimaksud fakhsya’ adalah Abu Bakar, mungkar adalah ‘Umar, dan baghyu adalah ‘Utsman.” [lihat Min 'Aqa'id asy-Syi'ah, hal. 21].

Putra Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu yang bernama Muhammad bin al-Hanafiyah pernah bertanya kepada ayahnya, “Aku bertanya kepada ayahku: Siapakah orang yang terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Beliau menjawab, “Abu Bakar.” Aku bertanya lagi, “Lalu siapa?”. Beliau menjawab, “’Umar.” Aku khawatir jika beliau mengatakan ‘Utsman adalah sesudahnya, maka aku katakan, “Lalu anda?”. Beliau menjawab, “Aku ini hanyalah seorang lelaki biasa di antara kaum muslimin.” (HR. Bukhari no. 3671)

Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Rafidhah/Syi’ah justru berseberangan dengan sikap orang yang mereka agung-agungkan yaitu ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu.

Tanggapan Para Ulama

Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah mengatakan:

Apabila kamu melihat ada seseorang yang menjelek-jelekkan salah seorang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang zindik. Hal itu dikarenakan menurut kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah membawa kebenaran. Demikian pula, al-Qur’an yang beliau sampaikan adalah benar.

Dan sesungguhnya yang menyampaikan kepada kita al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah ini adalah para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya mereka -para pencela Sahabat- hanyalah bermaksud untuk menjatuhkan kedudukan para saksi kita demi membatalkan al-Kitab dan as-Sunnah. Maka mereka itu lebih pantas untuk dicela, dan mereka itu adalah orang-orang zindik.

[lihat Qathful Jana ad-Daani Syarh Muqaddimah Ibnu Abi Zaid al-Qairawani, hal. 161]

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:

Termasuk Sunnah/pokok agama adalah menyebut-nyebut kebaikan seluruh para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menahan diri dari perselisihan yang timbul diantara mereka. Barangsiapa yang mencela para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau salah seorang diantara mereka maka dia adalah seorang tukang bid’ah pengikut paham Rafidhah/Syi’ah. Mencintai mereka -para Sahabat- adalah Sunnah. Mendoakan kebaikan untuk mereka adalah ibadah. Meneladani mereka adalah sarana -beragama- dan mengambil atsar/riwayat mereka adalah sebuah keutamaan.

[lihat Qathful Jana ad-Daani, hal. 162]

Imam Abu Ja’far ath-Thahawi rahimahullah berkata:

Kita mencintai para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kita tidak berlebih-lebihan dalam mencintai salah seorang diantara mereka. Kita juga tidak berlepas diri dari siapapun diantara mereka. Kita membenci orang yang membenci mereka, dan juga orang-orang yang menjatuhkan kehormatan mereka.

Kita tidak menyebutkan mereka kecuali dengan kebaikan. Cinta kepada mereka adalah termasuk bagian agama, ajaran keimanan dan sikap ihsan. Adapun membenci mereka adalah kekafiran, kemunafikan dan sikap yang melampaui batas.

[lihat Syarhal-'Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 488. Ta'liq Ibnu Baz dan Shalih al-Fauzan]

Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah berkata:

Maka siapakah yang lebih sesat daripada orang yang di dalam hatinya terdapat perasaan dengki terhadap kaum mukminin terbaik dan pemimpin para wali Allah ta’ala setelah para Nabi? Bahkan Yahudi dan Nasrani memiliki satu kelebihan di atas mereka [Syi'ah].

Orang Yahudi ditanya, “Siapakah orang-orang terbaik diantara pengikut agama kalian?”. Mereka menjawab, “Para sahabat Musa.” Orang Nasrani ditanya, “Siapakah orang-orang terbaik diantara pemeluk agama kalian?”. Mereka menjawab, “Para sahabat ‘Isa.”

Kaum Rafidhah/Syi’ah ditanya, “Siapakah orang-orang terjelek diantara pengikut agama kalian?”. Mereka menjawab, “Para sahabat Muhammad!!!” Mereka tidak mengecualikan kecuali sedikit sekali. Bahkan diantara yang mereka cela terdapat sahabat yang jauh lebih baik daripada yang mereka kecualikan.

[lihat Syarh al-'Aqidah ath-Thahawiyah takhrij Syaikh al-Albani, hal. 470]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Orang-orang Yahudi berkata bahwa tidak boleh kekuasaan itu dipegang oleh selain keturunan Dawud. Demikian pula, kaum Rafidhah/Syi’ah. Mereka mengatakan bahwa tidak boleh imamah/kepemimpinan umat ini dipegang oleh selain keturunan Ali. Orang Yahudi berkata bahwa tidak ada jihad fi sabilillah kecuali setelah keluarnya al-Masih ad-Dajjal dan diturunkan pedang. Kaum Rafidhah pun mengatakan bahwa tidak ada jihad fi sabilillah kecuali setelah keluarnya Imam Mahdi dan terdengar seruan dari langit.

Orang-orang Yahudi mengakhirkan sholat hingga bintang-bintang tampak. Maka begitu pula Rafidhah. Mereka mengakhirkan sholat Maghrib hingga bintang-bintang tampak. Padahal di dalam hadits ditegaskan, “Umatku akan senantiasa berada di atas fithrah selama mereka tidak mengakhirkan sholat Maghrib hingga tampaknya bintang-bintang.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, di dalam Zawa’id disebutkan bahwa sanadnya hasan).

Orang-orang Yahudi menyelewengkan ayat-ayat Taurat. Begitu pula kaum Rafidhah menyelewengkan ayat-ayat al-Qur’an. Yahudi memandang tidak dituntunkan mengusap khuf. Begitu pula Rafidhah memandang hal itu tidak diajarkan. Orang Yahudi membenci Jibril, mereka mengatakan, “Jibril adalah musuh kami dari kalangan malaikat.” Begitu pula  Rafidhah, mereka mengatakan, “Jibril salah menyampaikan wahyu kepada Muhammad.”

[lihat Minhaj as-Sunnah, dikutip dari Min 'Aqa'id asy-Syi'ah, hal. 23-24]

One response

  1. […] Sumber : kajianmahasiswa.wordpress.com […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,954 other followers

%d bloggers like this: